Senin, 19 Desember 2011

PERGAULAN BEBAS ANAK REMAJA…

PERGAULAN BEBAS ANAK REMAJA…

Hmmm…… sobat sekalian di blog ini saya berharap untuk mengumpas tuntas masalah judul di atas.

Mungkin memang sudah banyak sekali para remaja sekarang yang sudah tidak bisa menjamin kebahagiaannya!!!!! waw… Memang kerusakan mereka itu mempunyai beberapa faktor yang sulit mereka cari solusinya. Dan saya harap dengan blog ini, membantu mereka untuk melakukan perubahan yang positif bagi kehidupannya.

NEXT MASUK KEPADA INTI TOPIK:

Orang bilang pergaulan bebas karena salah memilih teman, tetapi menurut saya faktor pergaulan bebasa adalah tekanan batin seseorang yang sulit di luapkan secara terbuka. suatu masalah yang tidak di selesaikan secara cepat, maka akan memperbanyak masalah di kehidupannya. semua masalah itu, membuat tekanan batin seseorang sehingga bisa membuat saraf-saraf menjadi tegang, hingga sulit unutk berfikir. maka, dalam memilih jalan hidupnya mereka tidak memikirkan dampak dari jalan yang mereka pilih berdamapak positif ataukah negatif. pergaulan bebas juga bisa di karenakan contoh/sikap orang yang lebih dewasa yang kurang baik, akan tetapi di tunjukan di publik. s

ehingga bukan anak remaja saja yang hancur, melainkan anak kecil sekarang pun ikut ternoda karena perilaku orang dewasa yang tidak bertanggung jawab. pergaulan rusak pun di karenakan perhatian yang kurang dari lingkungan sekitar. perhatian orang tua adalah pengaruh besar bagi pergaulan….maka bisa d

i bilang seorang anak yang rusak pergaulannya bisa di sebabkan oleh peran serta dari pihak keluarga itu sendiri yang kurang memperhatikan.

Penasihat Berjalan

MASUK KE KASUS:

gezed, oshin, mukbo, cungkring, ucill, jawa, blackman

Pelaku Pergaulan Bebas Masa Kini

Saya jadi ingat sewaktu masih kecil, sekitar umur 12 tahun. Pada suatu malam kami sekeluarga makan diluar. Kebetulan di restoran itu ada satu keluarga ekspatriat yang juga ingin bermakan malam bersama. Pada waktu itu saya baru mengenal bahasa inggris. Saya mendengar dengan cermat percakapan yang sedang berlangsung di meja para ekspatriat tersebut. Salah satu dari mereka masih seumuran saya dan dia memanggil ayahnya dengan kata “you“. “Loh, bukankah you itu artinya kau atau kamu atau anda. Koq sangat tidak sopan betul anak ini?”, begitu pikir saya saat itu.

Saya langsung menanyakan hal ini kepada ayah saya. Dan katanya orang bule memang begitu, menyebut lawan bicara kalau tidak pake “you” ya pake nama. Setelah beranjak dewasa dan sering menonton film-film barat, saya juga sering memperhatikan di film-film itu ada percakapan antara anak-anak dan orang dewasa dengan kasus yang sama. Kadang-kadang stasiun televisi sampai mengganti kata “you” dengan kata “ayah” misalnya, atau “paman” untuk menyesuaikan dengan budaya kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar